Jumat, 17 Januari 2014

Cerpen



Amplop Merah

Bel tanda pelajaran selesai terdengar. Aku merapikan buku-buku di laciku dan ku temukan sepucuk surat tersempit di dalam buku Kimia dengan amplop warna merah, dan hanya berisi sebait puisi.

“Desiran pasir menggelitik,
Membangunkan sukma dari lamunan.
Rona merah timbul tenggelam,
Mengelabuhi burung camar yang melintasi cakrawala.

Ini adalah surat ketujuh yang pernah aku terima. Aku tidak tau siapa yang mengirim surat-surat yang penuh dengan misteri ini, akupun tidak tau arti dari puisi-puisi ini. Tapi aku punya teman yang slalu menerjemahkan kata-kata dari puisi ini namanya Laras. Laras adalah sahabatu dari kecil dia sahabat terbaikku. Dan guru-guru pun menganggap kita adalah sodara.

“Aku semakin penasaran siapa sih yang ngirim surat ini?? Apa ngga kehabisan kata-kata buat nulis puisi, duh bayangkan deh!” Sembari menendang-nedang botol kosong yang ada di jalanan.
Laras tersenyum dan merebut suratnya dan di baca kata per kata.
“Tapi memang ku akui puisi ini memang bagus, dan ini pasti penulis yag handal.” Walaupun aku ngga tau dunia tentang puisi itu apa. Tapi seenggaknya aku bisa menilai bahwa puisi ini memang bagus.

“Kamu suka??” , tanya Laras penasaran
“kenapa??”
“Pertama kamu mendapat surat ini katamu puisinya aneh.” Tanya Laras, tapi sepertinya Laras tidak ingin tau jawabanya, dia kembali sibuk memahami puisi itu.

“Artinya apa Ras??", aku mulai penasaran dan tak sabar

“Matahari itu diasumsikan sebagai si pengirim dan burung camar diibaratkan kamu, jadi dia punya harapan tapi harapanya itu semu, kaya harapan palsu gitu deh.” Terang Laras, 
“Ohh gitu..” aku mencoba mengingat-ngigat akhir-akhir ini apa aku pernah ngasih harapan semu sama cewek. Tapi akhir-akhir ini aku sedang tidak dekat sama cewek kecuali Laras.

Kami diam, dan aku sedang memikirkan tentang puisi itu mungkin Laras juga sedang memikirkan. “Yang ngirim puisi ini romantis banget, pasti yang ngirim ini cowok.” Kataku asal
“Ngawurr, emangnya yang bisa buat puisi romantis cowok doang.” Bentak Laras
“Idih, kenapa kamu tersinggung !” katakau dengan menjauh 100 meter darinya. Jujur memang aku takut kalau liat cewek marah, apalagi Laras.
“Iyalah aku kan juga cewek.” Jawab Laras tegas
“Iya iya, tapi kok kayaknya kamu yakin banget kalau yang ngirim itu cewek?” Tanyaku heran
“Emmm, mungkin aja masa ada cowok yang suka sama kamu ya ngga mungkin lah ..” Jawab Laras dengan tertawa.

“Iya sih.” Wajahku bingung
“Yaudah, pulang yuk.” Laras segera membuka payungnya dan setelah melihat tatapan memohonku akhirnya dia mau satu payung berdua sama aku.
“Terimakasih Laras yang manis.” Laras hanya mencibirku dan meninggalkan gerbang sekolah.

Bulan November telah berlalu dan tibalah bulan Desember yang basah. Aku sebenarnya benci hujan karena setiap kemana-mana pasti sedia payung, aku ngga suka ribet. Tapi berbeda dengan Laras dia malah antusias menunggu musim hujan.

“Bintang .” sapa Laras saat aku menginjak menuju gerbang sekolah.
“Hai ..” sapaku “payung baru ya... “ lanjutku.
“Iya dong, “ dengan bangga memainkan payungnya yang berwarna merah dan ada bintang-bintang kecil di setiap tepinya.
“Tapi kok merah lagi.” Tanyaku

“Iya dong, I Love Red “ jawabnya dengan mengeluarkan senyumnya yang manis. Bagiku Laras adalah cewek sempurna di dunia walau memang tak ada yang sempurna di dunia ini, Laras itu orangnya cantik, manis, baik, pintar lagi. Makanya aku selalu ada di dekatnya dan selalu melindunginya, dia sudah ku anggap sebagai adikku walau memang dia lebih tua dariku.

Pelajaran dimulai pelajaran pertama adalah Fisika. Semua murid melihat apa yang sedang dijelaskan oleh Bu Eka, tapi kulihat sedari tadi Laras tidak memperhatikan pelajaran dia memegangi kepalanya. “Kamu kenapa ras? Sakit ??” Tanyaku khawatir.
“Ngga pa-pa kok, cuman pusing aja.” Jawabnya sambil meringis
“Beneran ngga pa-pa??” aku kembali memastikan.
Dia hanya tersenyum, dan tak lama kemudian dia bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Bu Eka. 
“Permisi Pak, saya mau ke toilet sebentar.” Laras meminta ijin kepada Bu Eka.                     
 “Iya, silahkan ras.” Bu Eka mengijinkanya
Setelah mengucapkan terimaksih Laras berjalan dengan lemah keluar kelas menuju toilet.                

“Bintang, Laras kok lama ngga balik-balik” tanya Meme yang duduk di belakangku. Benar juga sudah 15 menit berlalu tapi dia ngga muncul-muncul. Akhirnya kuputuskan untuk menyusul Laras .
“Bu, saya ingin ke Toilet.”. kataku sambil mengangkat tangan. Setelah mendapat ijin dari Bu Eka segera aku berlari menuju ke toilet dengan perasaan cemas. Jangan-jangan Laras kenapa-napa lagi.

“Laras !” Panggilku sambil melihat tubuhnya terbaring tak sadarkan diri di depan toilet perempuan.
Dengan cepat tanpa berfikir panjang ku rengkuh tubuhnya dan kubopong ke UKS.                             “Panggil Bu Eni sekarang!, cepat!” perintahku kepada penjaga UKS dengan bingung lalu mereka segera memanggil Bu Eni, guru yang aku kenal selalu memperhatikan kesehatan muridnya dan juga pembina PMR.

Tangan Laras terasa dingin, dan mukanya pucat. Kenapa manggil Bu Eninya lama. “Bangun Laras” kataku lebih pada diriku sendiri. Tak lama Pak Tri datang ternyata Bu Eni Sedang tidak ada di tempat.

“Kok bisa pingsan?? Ini tadi kenapa??” tanya Pak Tri yang juga bingung.
“Ngga tau Pak, tadi Laras tiba-tiba sudah pingsan di depan toilet perempuan.” Jawabku “Tadi juga waktu di kelas dia sudah mengeluh karena kepalanya sakit.” Lanjutku. “Lis, minyak kayu putihmu masih ada, tolong tangan dan kakinyadi kasih minyak kayu putih” pinta Pak Tri kepada salah satu peserta PMR yang bernama Lisa.

“Pak apa ngga sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit” Usulku 
“Iya, baiklah hubungi Pak Mun untuk menyiapkan mobilnya” Pinta Pak Tri                                          “Baik Pak” segera ku berlari menghubungi Pak Mun yaitu guru TU di sekolahku.
Aku dan Pak Tri menunggu di depan pemeriksaan dokter. 

Dan tak lama kemudian Mama dan Papa Laras datang menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan Laras Pak, kami adalah orang tuanya.” Tanya Om Arif yang cemas, begitupun Tante Widy.
Tak lama kemudian Dokter keluar “Bagaimana keadaan anak saya Dok??” tanya Om Arif. “Dia koma.” Jawab Dokter. Dan memberi isyarat untuk mngikuti ke ruanganya karena ada yang ingin di bicarakan. Tante Widy tak bisa menahan tetesan air matanya.

Aku masih belum bisa percaya, manamungkin Laras koma. Jelas-jelas tadi pagi dia ngga kenapa-napa, kenapa dia tiba-tiba koma. Laras kan tidak kecelakaan ata semacamnya.
Hari ini hari pertama Laras tidak masuk sekolah karena koma, aku masih tidak percaya tentang hal itu. Dan payung merah masih ada di tempat payung di sudut kelas karena kemarin aku lupa membawanya saat aku mengantarkan tas kerumahnya. Kali ini aku tidak konsen dan tidak memperhatikan. Aku sudah empat kali di tegur oleh guru karena ketahuan melamun.

Dua jam terakhir aku berencana ingin bolos, karena aku ingi menjenguk Laras sekalian mengembalikan payungnya. Bergegas ku bereskan buku-buku di laciku karena ini sudah jam keenam. Tapi aku terhenti karena ku temukan seperti biasa sepucuk surat beramplop merah. Tapi ini lain isinya bukan puisi melainkan sebuah curahan hati bahwa si pengirim mencintaiku. Tapi aku membiarkan dan mengabaikan suratnya.

“Eh, ada den Bintang, ada apa den??” Tanya Mbok Inah pembantu Laras yang telah membukakan pintu. “Mau ngembaliin ini Bi!” Jawabku sambil memperlihatkan payung Laras kepada Mbok Inah. “Masuk aja den, Simbok lagi masak” sambil membuka pintu lebar. Aku sudah biasa ke rumah Laras karena aku sering sekali main ke rumah Laras. Dan keluarganya juga sudah menganggapku sebagai keluarganya.

Aku berencena meletakkan payung Laras di kamarnya lalu pergi. Tapi perhatianku melihat ada beberapa amplop merah di tempat tidur Laras dan kusamakan warna amplop yang tadi pagi aku dapatkan.

“Kak, kakak lagi ngapain??” tanya seorang laki-laki yang mengagetkanku. Ternyata Aldy adik Laras yang sekarang duduk di kelas 1 SMP. Dia berdiri di depan pintu.
“Eh Aldy, kamu udah pulang sekolah??” Tanyaku seolah-olah menghilangkan kegugupanku.           “Udah.” Jawabnya sambil melihat amplop yang aku bawa.
“Kakak mau ke Rumah Sakit, jenguk Kak Laras kamu mau ikut??” Tawarku kepada Aldy sambil menuju pintu. Tadi sebelum ke rumah Laras aku pulang untuk mengambil mobil dulu. Aldy hanya mengangguk.                                                   

“Kak Bintang sedih nggak ngelihat Kak Laras sakit??” Tanyanya saat kami dalam perjalanan menuju RS. Aku bingung ada apa dengan pertanyaanya. Apa yang sedang dia pikirkan?
“Tidak ada yang menyedihkan selain ini Dy” Jawabku jujur. 
“Apa Kakak suka sama Kak Laras??” Tanyanya. Apakah aku harus menjawab pertanyaanya? Aku saja tidak tau apa jawabanya.
“Kakakku cantik lho, baik, pintar lagi.” Katanya sambil terus menatap depan, dari suaranya kelihatanya dia takut menanyakan tentang ini. Tapi sepertinya pertanyaan ini sangat penting.
“Kamu sudah makan?? Aku beliin pizza ya.” Kataku sambil mengalihkan pembicaraan agar suasana yang kaku ini menjadi hilang. Dia hanya mengangguk.

Malam ini sedikitpun aku tak bisa memejamkan mataku. Pertanyaan Aldy yang masih terbayang di fikiranku. Dan amplop-amplop merah yang ada di kamar Laras. Jatungku berdegub kencang akupun tak bisa memikirkanya. Dan ku pasrahkan untuk keluar rumah mencari udara segar.

Aku keluar rumah dan menuju taman kompleks. Aku seharusnya tidak ada disini saat hujan mengguyur deras. “Seharusnya aku bawa payung.” Gerutku dalam hati.

Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. “Ternyata kamu mau datang kesini juga saat aku tidak ada.” Katanya sambil tersenyum melihat ekspresi kagetku. Aku tidak percaya apa yang ku lihat senyumanya benar-benar membuatku tenang dan tak dapat dipungkiri.
“Bagaimana kamu sudah ada disini Ras?? Apa kamu sudah baik-baik saja?” tanyaku sambil mengamatinya, dia benar baik-baik saja. “Iya aku baik-baik saja.” Jawabnya

“Aku benar-benar tidak tau bahwa kamu sudah sembuh sore ini, kalau aku tau pasti akan ku jemput walau aku sibuk.” Jawabnya dengan rasa bersalah. “Kan ku jemput tuan Putri.” Lanjutku. 
 Dia mencibirku, dan aku sadar bahwa aku sering kali menggombalinya.

“Kamu tau kenapa aku suka hujan?” tanyanya sambil memandangi hujan. Kuikuti arah pandanganya dan aku menggeleng. “Karena hujan itu romantis, seperti puisi.” Jawabnya.                            
“Sejak kapan kamu suka .....” aku menghentikan pertanyaanku, aku mau tanya apa dia suka dengan puisi tapi aku teringat dengan sesuatu. 

“Namaku Laras, aku sangat menyukai puisi itulah kenapa namaku Larasati Putri, Poetry yang artinya puisi.” Pertama kali Laras memperkenalkan dirinya di depan kelas.

Dia tersenyum melihatku salah tingkah. “Wajar kalau kamu lupa, ngga penting juga.” Terlihat senyumanya yang penuh dengan kekecewaan, aku berani melakukan apapun dengan menghapuskan ekspresi itu darinya. Aku benar-benar tidak ingin melihat Laras terluka. Aku baru saat ini melihat di dekat Laras dengan rasa canggung. Aku tahu arah pembicaraannya, aku merasa ia ingin membahas puisi-puisi yang selama ini aku terima. Namun, ia tidak kunjung mengatakan sesuatu, ia masih melihat hujan yang perlahan mulai mereda. Sepertinya ia menungguku mengatakannya terlebih dahulu. 

‘Ayolah Bintang tanyakan pada Laras! Tunggu apa lagi toh udah benar semuanya puisi, amplop, warna merah tunggu apa lagi bintang?’ katakau dalam hati. Justru hati dan bibirku suda berbeda dan bibirku mulai membeku.

“Aku pulang dulu ya Laras, mumpung hujanya udah reda.” Aku benar-benar sudah mengutuk diriku sendiri, sudah jelas-jelas dia ada di depanku mengapa aku begitu bodohnya. Aku benar-benar canggung jika mencintai perempuan.  Itulah megapa setelah kejadian malam ini aku mulai tersiksa akan hari-hariku, dan aku yakin bahwa ini memamng cinta.

Pagi ini mendung melapisi langit, tapi untuk pertama kalinya aku tersenyum karenanya. Aku akan mengutarakan isi hatiku kepada Laras. Apalagi jika datang hujan itu akan lebih romantis. Hari ini aku tidak seperti biasaya aku lebih menyiapkan segala sesuatu. Termasuk payung. Aku berpamitan dengan Mama dan Papa lalu aku segera berangkat ke sekolah.

“Hai teman-teman aku berangkat pagi kan? Karena hari ini hari spesial hari ini hari Laras akan berangkat sekolah lagi.” Kataku kepada semua murid sambil tersenyum lebar.                                     “Bintang, apa kamu ngga tau?” tanya Firman.
“Tahu apa?” tanyaku dengan wajah yang masih berseri-seri. 
“Laras, meninggal kemarin sore.” Jawab Firman. Aku tak percaya apa itu benar tapi aku tak tahan dengan mataku yang akan meneteskan air mata.
“Bohong! Jelas-jelas tadi malam dia menemaniku di taman, jangan bohong padaku, ini tidak lucu.” Bentakku dengan wajah cemas penuh air mata.

Mereka diam seribu bahasa, sebagian anak menangis. Aku mulai bingung, aku berlari menuju rumah Laras dan memastikan yang sebenarnya. Walaupun hujan deras membasahi tubuhku, aku tak peduli.
Jantungku seakan hampir meledak saat melihat bendera kuning terpasang di gerbang kompleks Laras. Aku berlari dengan sisa kekuatan yang aku miliki memastikan bukan rumah Laras yang sedang berduka. Namun itu memang rumah Laras.

Aku berdiri di luar, aku tidak berani masuk, aku takut. “Masuk kak, temani kak Laras sebelum ia di kubur, Kak Bintang sangat berarti bagi Kak Laras. Kakak pasti sudah tahu puisi-puisi itu dari Kak Laras, iyakan?”, tanya Aldy. Aku tidak bisa bergerak, aku runtuh. Aku menyesali kebodohanku di tengah hujan yang kini terasa begitu menyakitkan

Puisi Cinta

Seseoarang

Ketika mentari bersinar
Kulihat ada senyummu,
manismu, manjamu, dan menawanmu

Walau terbentang samudra memisahkan
Engkau tetap penerang,
penyejuk, pelipur dari segala duka

Engkaulah bintang didalam hatiku
Memberi asa yang indah dan gemerlap
Saat kesepian engkaulah rembulan dalam jiwaku
Memberi cahaya indah
Saag gelap gulita
Engkau matahariku
Engkaulah segala-galanya bagiku


Bayang Semu

Gugusan hari-hari indah bersamamu
Bangkitkan kembali rinduku
Mengajakku untuk berlari
Mengejar seribu bayangmu
Tak peduli kan ku terjang padang ilalang

Langkahku terhenti
Sejuta tangan menahanku
Inginku maki, mereka berkata
"Tak perlu kau berlari mengejar mimpi yang tak pasti"

Kamis, 16 Januari 2014

Kesendirian

Kesendirianku dalam kehidupan

Bersama hitam menyusuri perjalanan
Tanpa sebait putih impian
Dan cahaya bisikan rembulan
Kesendirianku dalam kehidupan
Tiada lagi warna terhias keindahan
Tiada lagi cerah terlukis bintang kesucian
Kepergian langkahmu membawa tangisan
Kesendirianku dalam kehidupan
Semua rasa telah terangan
Hingga mentari lelah dalam pelarian
Dan tanaah angkuh terbenam kematian

Puisi Persahabatan

Sahabat

Aku mengenalmu tanpa sengaja
Mencoba akrab denganmu
Menjalani persahabatan yang indah
Melengkapi satu sama lain
Bersatu dalam ikatan persaudaraan

Sahabat..
Tak selalu nampak tapi selalu ada
Persahabatan itu seperti tangan dengan mata
Saat tangan terluka mata menangis
Saat mata menangis tangan yang mengusapnya

Puisi

Insan Jalanan

Orang-orang yang berserakan
Tubuhnya lemas tak berdaya
Begitu kasihanya mereka

Takada yang peduli dengan nasib mereka
Betapa malang nasib mu
Hidup bagaikan sampah yang berserakan

Apa tak ada orang yang memikirkanmu
Bagaikan hidupu yang pantang
Hanya hidup dengan kemampuan

Welcome in My Blog

Hai...
Namaku Hanifa Mita Riandini, aku kurang tau apa arti dari namaku. Yang pasti nama pemberian orang tua pasti baguus, syukuri aja. Aku lahir di Jepara, 7 Oktober 1998, dan aku dilahirkan sebagai anak pertama dari satu bersaudara. Tk, SD, dan SMP lulus di Jepara. Tapi setelah lulus dari SMP ku yang tercinta, aku memutuskan untuk sekolah di Malang tepatnya di SMK Putra Industri dengan program keahlian Kimia Industri. Aku juga ngga tau kenapa aku bisa memilih sekolah disini.

Makanan kesukaanku itu Nasgor sama Mie (mie apa aja yang pnting enak di makan). Dan minuman kesukaanku susu sama air putih. Warna favoriteku merah sama putih kaya' bendera Indonesia :). Ini sekilas dari My Profil.