Amplop
Merah
Bel tanda pelajaran selesai terdengar. Aku merapikan
buku-buku di laciku dan ku temukan sepucuk surat tersempit di dalam buku Kimia
dengan amplop warna merah, dan hanya berisi sebait puisi.
“Desiran pasir
menggelitik,
Membangunkan sukma
dari lamunan.
Rona merah timbul
tenggelam,
Mengelabuhi burung
camar yang melintasi cakrawala.
Ini adalah surat ketujuh yang pernah aku terima. Aku tidak
tau siapa yang mengirim surat-surat yang penuh dengan misteri ini, akupun tidak
tau arti dari puisi-puisi ini. Tapi aku punya teman yang slalu menerjemahkan
kata-kata dari puisi ini namanya Laras. Laras adalah sahabatu dari kecil dia
sahabat terbaikku. Dan guru-guru pun menganggap kita adalah sodara.
“Aku semakin penasaran siapa sih yang ngirim surat ini?? Apa
ngga kehabisan kata-kata buat nulis puisi, duh bayangkan deh!” Sembari
menendang-nedang botol kosong yang ada di jalanan.
Laras tersenyum dan merebut suratnya dan di baca kata per
kata.
“Tapi memang ku akui puisi ini memang bagus, dan ini pasti
penulis yag handal.” Walaupun aku ngga tau dunia tentang puisi itu apa. Tapi
seenggaknya aku bisa menilai bahwa puisi ini memang bagus.
“Kamu suka??” , tanya Laras penasaran
“kenapa??”
“Pertama kamu mendapat surat ini katamu puisinya aneh.”
Tanya Laras, tapi sepertinya Laras tidak ingin tau jawabanya, dia kembali sibuk
memahami puisi itu.
“Artinya apa Ras??", aku mulai penasaran dan tak sabar
“Matahari itu diasumsikan sebagai si pengirim dan burung
camar diibaratkan kamu, jadi dia punya harapan tapi harapanya itu semu, kaya
harapan palsu gitu deh.” Terang Laras,
“Ohh gitu..” aku mencoba
mengingat-ngigat akhir-akhir ini apa aku pernah ngasih harapan semu sama cewek.
Tapi akhir-akhir ini aku sedang tidak dekat sama cewek kecuali Laras.
Kami diam, dan aku sedang memikirkan tentang puisi itu
mungkin Laras juga sedang memikirkan. “Yang ngirim puisi ini romantis banget,
pasti yang ngirim ini cowok.” Kataku asal
“Ngawurr, emangnya yang bisa buat puisi romantis cowok
doang.” Bentak Laras
“Idih, kenapa kamu tersinggung !” katakau dengan menjauh 100
meter darinya. Jujur memang aku takut kalau liat cewek marah, apalagi Laras.
“Iyalah aku kan juga cewek.” Jawab Laras tegas
“Iya iya, tapi kok kayaknya kamu yakin banget kalau yang
ngirim itu cewek?” Tanyaku heran
“Emmm, mungkin aja masa ada cowok yang suka sama kamu ya
ngga mungkin lah ..” Jawab Laras dengan tertawa.
“Iya sih.” Wajahku bingung
“Yaudah, pulang yuk.” Laras segera membuka payungnya dan
setelah melihat tatapan memohonku akhirnya dia mau satu payung berdua sama aku.
“Terimakasih Laras yang manis.” Laras hanya mencibirku dan
meninggalkan gerbang sekolah.
Bulan November telah berlalu dan tibalah bulan Desember yang
basah. Aku sebenarnya benci hujan karena setiap kemana-mana pasti sedia payung,
aku ngga suka ribet. Tapi berbeda dengan Laras dia malah antusias menunggu
musim hujan.
“Bintang .” sapa Laras saat aku menginjak menuju gerbang
sekolah.
“Hai ..” sapaku “payung baru ya... “ lanjutku.
“Iya dong, “ dengan bangga memainkan payungnya yang berwarna
merah dan ada bintang-bintang kecil di setiap tepinya.
“Tapi kok merah lagi.” Tanyaku
“Iya dong, I Love Red “ jawabnya dengan mengeluarkan
senyumnya yang manis. Bagiku Laras adalah cewek sempurna di dunia walau memang
tak ada yang sempurna di dunia ini, Laras itu orangnya cantik, manis, baik,
pintar lagi. Makanya aku selalu ada di dekatnya dan selalu melindunginya, dia
sudah ku anggap sebagai adikku walau memang dia lebih tua dariku.
Pelajaran dimulai pelajaran pertama adalah Fisika. Semua
murid melihat apa yang sedang dijelaskan oleh Bu Eka, tapi kulihat sedari tadi
Laras tidak memperhatikan pelajaran dia memegangi kepalanya. “Kamu kenapa ras?
Sakit ??” Tanyaku khawatir.
“Ngga pa-pa kok,
cuman pusing aja.” Jawabnya sambil meringis
“Beneran ngga pa-pa??” aku kembali memastikan.
Dia hanya tersenyum, dan tak lama kemudian dia bangkit dari
tempat duduknya dan menghampiri Bu Eka.
“Permisi Pak, saya mau ke toilet
sebentar.” Laras meminta ijin kepada Bu Eka.
“Iya, silahkan ras.” Bu Eka mengijinkanya
Setelah mengucapkan terimaksih Laras berjalan dengan lemah
keluar kelas menuju toilet.
“Bintang, Laras kok lama ngga balik-balik” tanya Meme yang duduk di
belakangku. Benar juga sudah 15 menit berlalu tapi dia ngga muncul-muncul.
Akhirnya kuputuskan untuk menyusul Laras .
“Bu, saya ingin ke Toilet.”. kataku sambil mengangkat
tangan. Setelah mendapat ijin dari Bu Eka segera aku berlari menuju ke toilet
dengan perasaan cemas. Jangan-jangan Laras kenapa-napa lagi.
“Laras !”
Panggilku sambil melihat tubuhnya terbaring tak sadarkan diri di depan toilet
perempuan.
Dengan cepat tanpa berfikir panjang ku rengkuh tubuhnya dan
kubopong ke UKS.
“Panggil Bu Eni sekarang!, cepat!” perintahku kepada penjaga UKS dengan
bingung lalu mereka segera memanggil Bu Eni, guru yang aku kenal selalu
memperhatikan kesehatan muridnya dan juga pembina PMR.
Tangan Laras terasa dingin, dan mukanya pucat. Kenapa
manggil Bu Eninya lama. “Bangun Laras” kataku lebih pada diriku sendiri. Tak
lama Pak Tri datang ternyata Bu Eni Sedang tidak ada di tempat.
“Kok bisa pingsan?? Ini tadi kenapa??” tanya Pak Tri yang
juga bingung.
“Ngga tau Pak, tadi Laras tiba-tiba sudah pingsan di depan
toilet perempuan.” Jawabku “Tadi juga waktu di
kelas dia sudah mengeluh karena kepalanya sakit.” Lanjutku. “Lis, minyak
kayu putihmu masih ada, tolong tangan dan kakinyadi kasih minyak kayu putih”
pinta Pak Tri kepada salah satu peserta PMR yang bernama Lisa.
“Pak apa ngga sebaiknya kita bawa ke Rumah Sakit”
Usulku
“Iya, baiklah hubungi Pak Mun untuk menyiapkan mobilnya” Pinta Pak
Tri
“Baik Pak” segera ku berlari menghubungi Pak Mun yaitu guru TU di
sekolahku.
Aku dan Pak Tri menunggu di depan pemeriksaan dokter.
Dan
tak lama kemudian Mama dan Papa Laras datang menghampiri kami.
“Bagaimana keadaan Laras Pak, kami adalah orang tuanya.”
Tanya Om Arif yang cemas, begitupun Tante Widy.
Tak lama kemudian Dokter keluar “Bagaimana keadaan anak saya
Dok??” tanya Om Arif. “Dia koma.” Jawab Dokter. Dan memberi isyarat untuk
mngikuti ke ruanganya karena ada yang ingin di bicarakan. Tante Widy tak bisa
menahan tetesan air matanya.
Aku masih belum bisa
percaya, manamungkin Laras koma. Jelas-jelas tadi pagi dia ngga kenapa-napa,
kenapa dia tiba-tiba koma. Laras kan tidak kecelakaan ata semacamnya.
Hari ini hari pertama Laras tidak masuk sekolah karena koma,
aku masih tidak percaya tentang hal itu. Dan payung merah masih ada di tempat
payung di sudut kelas karena kemarin aku lupa membawanya saat aku mengantarkan
tas kerumahnya. Kali ini aku tidak konsen dan tidak memperhatikan. Aku sudah
empat kali di tegur oleh guru karena ketahuan melamun.
Dua jam terakhir aku berencana ingin bolos, karena aku ingi
menjenguk Laras sekalian mengembalikan payungnya. Bergegas ku bereskan
buku-buku di laciku karena ini sudah jam keenam. Tapi aku terhenti karena ku
temukan seperti biasa sepucuk surat beramplop merah. Tapi ini lain isinya bukan
puisi melainkan sebuah curahan hati bahwa si pengirim mencintaiku. Tapi aku
membiarkan dan mengabaikan suratnya.
“Eh, ada den Bintang, ada apa den??” Tanya Mbok Inah
pembantu Laras yang telah membukakan pintu. “Mau ngembaliin ini Bi!” Jawabku
sambil memperlihatkan payung Laras kepada Mbok Inah. “Masuk aja den, Simbok
lagi masak” sambil membuka pintu lebar. Aku sudah biasa ke rumah Laras karena
aku sering sekali main ke rumah Laras. Dan keluarganya juga sudah menganggapku
sebagai keluarganya.
Aku berencena meletakkan payung Laras di kamarnya lalu
pergi. Tapi perhatianku melihat ada beberapa amplop merah di tempat tidur Laras
dan kusamakan warna amplop yang tadi pagi aku dapatkan.
“Kak, kakak lagi ngapain??” tanya seorang laki-laki yang
mengagetkanku. Ternyata Aldy adik Laras yang sekarang duduk di kelas 1 SMP. Dia
berdiri di depan pintu.
“Eh Aldy, kamu udah pulang sekolah??” Tanyaku seolah-olah
menghilangkan kegugupanku.
“Udah.” Jawabnya sambil melihat amplop yang aku bawa.
“Kakak mau ke Rumah Sakit, jenguk Kak Laras kamu mau ikut??”
Tawarku kepada Aldy sambil menuju pintu. Tadi sebelum ke rumah Laras aku pulang
untuk mengambil mobil dulu. Aldy hanya mengangguk.
“Kak
Bintang sedih nggak ngelihat Kak Laras sakit??” Tanyanya saat kami dalam
perjalanan menuju RS. Aku bingung ada apa dengan pertanyaanya. Apa yang sedang
dia pikirkan?
“Tidak ada yang menyedihkan selain ini Dy” Jawabku
jujur.
“Apa Kakak suka sama Kak Laras??” Tanyanya. Apakah aku harus menjawab
pertanyaanya? Aku saja tidak tau apa jawabanya.
“Kakakku cantik lho, baik, pintar lagi.” Katanya sambil
terus menatap depan, dari suaranya kelihatanya dia takut menanyakan tentang
ini. Tapi sepertinya pertanyaan ini sangat penting.
“Kamu sudah makan?? Aku beliin pizza ya.” Kataku sambil mengalihkan
pembicaraan agar suasana yang kaku ini menjadi hilang. Dia hanya mengangguk.
Malam ini sedikitpun aku tak bisa memejamkan mataku.
Pertanyaan Aldy yang masih terbayang di fikiranku. Dan amplop-amplop merah yang
ada di kamar Laras. Jatungku berdegub kencang akupun tak bisa memikirkanya. Dan
ku pasrahkan untuk keluar rumah mencari udara segar.
Aku keluar
rumah dan menuju taman kompleks. Aku seharusnya tidak ada disini saat hujan
mengguyur deras. “Seharusnya aku bawa payung.” Gerutku dalam hati.
Tiba-tiba ada yang menepuk pundakku. “Ternyata kamu mau
datang kesini juga saat aku tidak ada.” Katanya sambil tersenyum melihat
ekspresi kagetku. Aku tidak percaya apa yang ku lihat senyumanya benar-benar
membuatku tenang dan tak dapat dipungkiri.
“Bagaimana kamu sudah ada disini Ras?? Apa kamu sudah
baik-baik saja?” tanyaku sambil mengamatinya, dia benar baik-baik saja.
“Iya aku baik-baik saja.” Jawabnya
“Aku benar-benar tidak tau bahwa kamu sudah sembuh sore ini,
kalau aku tau pasti akan ku jemput walau aku sibuk.” Jawabnya dengan rasa
bersalah. “Kan ku jemput tuan Putri.” Lanjutku.
Dia mencibirku,
dan aku sadar bahwa aku sering kali menggombalinya.
“Kamu tau kenapa aku suka hujan?” tanyanya sambil memandangi
hujan. Kuikuti arah pandanganya dan aku menggeleng. “Karena hujan itu romantis,
seperti puisi.” Jawabnya.
“Sejak kapan kamu suka .....”
aku menghentikan pertanyaanku, aku mau tanya apa dia suka dengan puisi tapi aku
teringat dengan sesuatu.
“Namaku Laras, aku sangat menyukai puisi itulah kenapa
namaku Larasati Putri, Poetry yang artinya puisi.” Pertama kali Laras
memperkenalkan dirinya di depan kelas.
Dia tersenyum melihatku salah tingkah. “Wajar kalau kamu
lupa, ngga penting juga.” Terlihat senyumanya yang penuh dengan kekecewaan, aku
berani melakukan apapun dengan menghapuskan ekspresi itu darinya. Aku
benar-benar tidak ingin melihat Laras terluka. Aku baru saat ini melihat di
dekat Laras dengan rasa canggung. Aku tahu arah pembicaraannya, aku merasa ia ingin membahas
puisi-puisi yang selama ini aku terima. Namun, ia tidak kunjung mengatakan sesuatu,
ia masih melihat hujan yang perlahan mulai mereda. Sepertinya ia menungguku
mengatakannya terlebih dahulu.
‘Ayolah Bintang tanyakan pada Laras! Tunggu apa lagi toh
udah benar semuanya puisi, amplop, warna merah tunggu apa lagi bintang?’
katakau dalam hati. Justru hati dan bibirku suda berbeda dan bibirku mulai
membeku.
“Aku pulang dulu ya Laras, mumpung hujanya udah reda.” Aku
benar-benar sudah mengutuk diriku sendiri, sudah jelas-jelas dia ada di depanku
mengapa aku begitu bodohnya. Aku benar-benar canggung jika mencintai
perempuan. Itulah megapa setelah
kejadian malam ini aku mulai tersiksa akan hari-hariku, dan aku yakin bahwa ini
memamng cinta.
Pagi ini mendung melapisi langit, tapi untuk pertama kalinya
aku tersenyum karenanya. Aku akan mengutarakan isi hatiku kepada Laras. Apalagi
jika datang hujan itu akan lebih romantis. Hari ini aku tidak seperti biasaya
aku lebih menyiapkan segala sesuatu. Termasuk payung. Aku berpamitan dengan
Mama dan Papa lalu aku segera berangkat ke sekolah.
“Hai teman-teman aku berangkat pagi kan? Karena hari ini
hari spesial hari ini hari Laras akan berangkat sekolah lagi.” Kataku kepada
semua murid sambil tersenyum lebar. “Bintang,
apa kamu ngga tau?” tanya Firman.
“Tahu apa?” tanyaku dengan wajah yang masih
berseri-seri.
“Laras, meninggal kemarin sore.” Jawab Firman. Aku tak percaya apa itu
benar tapi aku tak tahan dengan mataku yang akan meneteskan air mata.
“Bohong! Jelas-jelas tadi malam dia menemaniku di taman,
jangan bohong padaku, ini tidak lucu.” Bentakku dengan wajah cemas penuh air
mata.
Mereka diam seribu bahasa, sebagian anak menangis. Aku mulai
bingung, aku berlari menuju rumah Laras dan memastikan yang sebenarnya.
Walaupun hujan deras membasahi tubuhku, aku tak peduli.
Jantungku seakan hampir meledak saat melihat bendera kuning
terpasang di gerbang kompleks Laras. Aku berlari dengan sisa kekuatan yang aku
miliki memastikan bukan rumah Laras yang sedang berduka. Namun itu memang rumah
Laras.
Aku berdiri di luar, aku tidak berani masuk, aku takut. “Masuk kak, temani kak Laras sebelum ia di kubur, Kak Bintang sangat berarti bagi Kak Laras. Kakak pasti sudah tahu puisi-puisi itu dari Kak Laras, iyakan?”, tanya Aldy. Aku tidak bisa bergerak, aku runtuh. Aku menyesali kebodohanku di tengah hujan yang kini terasa begitu menyakitkan
Aku berdiri di luar, aku tidak berani masuk, aku takut. “Masuk kak, temani kak Laras sebelum ia di kubur, Kak Bintang sangat berarti bagi Kak Laras. Kakak pasti sudah tahu puisi-puisi itu dari Kak Laras, iyakan?”, tanya Aldy. Aku tidak bisa bergerak, aku runtuh. Aku menyesali kebodohanku di tengah hujan yang kini terasa begitu menyakitkan
