KERAJAAN
PONTIANAK
A.
Cikal
Bakal Kerajaan Pontianak
Kerajaan Pontianak
dikenal dengan nama Kesultanan Pontianak atau Kesultanan Qadriah, karena
didirikan oleh dinasti al-Qadri. Pendiri kerajaan ini adalah Syarif Abdurrahman
al-Qadri, Syarif Abdurrahmna al-Qadri keturunan Arab dan Dayak. Syarif
Abdurrahman lahir di Matan tanggal 15 Rabiul Awal 1151 H (1739 M), putra
Al-Habib Husein al-Qadri seorang penyebar agama Islam yang berasal dari Arab.
Asal mulanya kerajaan tersebut datangnya rombongan Syarif Abdurrahman yang
membuka hutan persimpangan tiga Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai
Kapuas.
Setelah tiga tahun ayahnya wafat (1184 H) di Mempawah,
maka Syarif Abdurrahman mengajak kaum keluarganya bermusyawarah untuk
meninggalakan Mempawah. Mereka berangkat menggunakan empatbelas kapal yang
diberi nama “KAKAP”. Di malam yang gelap mereka berhenti untuk menunggu hari
siang. Tempat peristirahatan mereka oleh penduduk menamainya “KELAPA TINGGI
SEGEDONG”. Hampir-hampir mereka mendirikan pusat kerajaan di tempat ini. Karena
tidak sesuai dengan maksud Syarif Abdurrahman, berangktalah mereka memutar
huluan sungai kapuas kecil. Sepanjang perjalanan menyusuri sungai kapuas kecil
ke daerah Batu Layang, dimana sekarang ini tempat itulah Syarif Abdurrahman dan
keturunanya dimakamkan, tak henti-hentinya gangguan makhluk-makhluk halus, atau
disebut hantu pontianak, ini adalah salah satu gangguan yang menghambat
perjalanan maju. Syarif Abdurrahman mengambil sikap tegas untuk melanjutkan
perjalanan menunggu hari esok.
Besok paginya, Sayrif Abdurrahman menembakkan puluru
meriamnya. Ia berkata “dimana peluru ini jatuh, disitulah kota kerajaan kita
akan dibangun” Selain membangun Ibu Kota ia bermaksud akan mengusir hantu-hantu
Pontianak pengganggu itu. Peluru telah berangkat mendahului mereka. Sekarang
mereka mengikutinya, peluru sudah ditemukan ditempat dimana Masjid Jami’ Sultan
Pontianak sekarang berdiri.
Menurut Syarif Abdurrahman bahwa tempat inilah yang
paling tepat, strategis perang dan perdagangan. Ditetapkanlah tempat ini
menjadi Ibu Kota kerajaannya. Kota Pontianak atau Kerajaan ini didirikan
dipersimpangan sungai landak dan sungai kapuas kecil.
Terlahirlah sebuah kerajaan pada tanggal 24 Rajab 1181 H
yang bertepatan pada tahun 1771 Masehi. Dan pada tahun 1192 H, Sayrif
Abdurrahman dinobatkan sebagai sultan Pontianak pertama, yang letak pusat
pemerintahanya ditandai dengan berdirinya Masjid Jami’ Sultan Abdurrahman
Alkadri dan Istana Kadriyah
B.
Geohistoris
Kerajaan Pontianak
Ini
adalah letak wilayah kekuasaan Kerajaan Pontianak.
C.
Raja-Raja
Yang Pernah Memerintah Kerajaan Pontianak
Adapun Sultan yang pernah memegang tampuk
Pemerintahan Kesultanan Pontianak :
1.
Syarif
Abdurrahman al-Qadri (1771-1808)
2.
Syarif Kasim
al-Qadri (1808-1819)
3.
Syarif Osman
al-Qadri (1819-1855)
4.
Syarif Hamid
al-Qadri (1855-1872)
5.
Syarif Yusuf
al-Qadri (1872-1895)
6.
Syarif Muhammad
al-Qadri (1895-1945)
7.
Syarif Thaha
al-Qadri (1945-1955)
8.
Syarif Hamid
al-Qadri atau Sultan Hamid II (1945-1950)
Sultan
yang terkenal yang pernah memerintah kerajaan salah satunya adalah :
(1) Syarif Abdurrahman al-Qadri karena beliau adalah
pendiri Kerajaan Pontianak. Dan yang mendirikan Masjid Raya Syarif Abdurrahman,
dan Istana Kadriyah.
(2) Syarif Hamid al-Qadri atau biasa disebut Sultan
Hamid II beliau adalah raja terakhir dari Kerajaan Pontianak. Beliau juga
diangkat oleh Soekarno menjadi kabinet RIS dan perancang lambang negara “Garuda
Pancasila”.
D.
Peninggalan
Kerajaan Pontianak
Ini adalah beberapa peninggalan dari Kerajaan
Pontianak atau Kesultanan Pontianak.
Gapura menuju istana. Ini
adalah gerbang masuk menuju Keraton Qadriah, yang di sambut dengan gapura antic
dari kayu Kalimantan (Berlian) yang cukup besar. Disana juga akan terlihat
tiang bendera bekas Kerajaan Pontianak yang menjulang tinggi.
Keraton
Qadriah merupakan pusat pemerintahan Pontianak tempo dulu, struktur bangunanya
terbuat dari kayu yang kokoh, didirikan oleh Syarif Abdurrahman pada tahun
1771.
Masjid
Jami’, masjid yang dibangun aslinya beratap rumbia dan konstruturnya dari kayu.
Lalu setelah beliau wafat masjid ini bernama Masjid Jami’ Abdurrahman, sebagai
penghormatan dan untuk mengenang jasa-jasa beliau.
Makam
Batu Layang, tempat dimana Syarif Abdurrahman dan keturunannya dimakamkan.
E.
Runtuhnya
Kerajaan Pontianak
Belanda memang
merasa khawatir dengan sikap Sultan Sambas yang lebih berpihak kepada
saudagar-saudagar dari negeri China dibandingkan dengan VOC dan pedagang dari
negara Eropah lainnya. Terlebih setelah sebuah pabrik milik VOC di Sambas dalam
tahun 1610 diserang dan semua pegawai syarikat dagang itu dibunuh.
Peristiwa serupa terulang kembali sewaktu terjadi
peperangan antara Sukadana sekutu Kerajaan Sambas dengan Mataram yang dibantu
Belanda dalam tahun 1612, satu lagi pabrik milik VOC di Sambas telah dibakar.
Walaupun tidak ada orang Belanda yang mati dibunuh dalam peristiwa kedua itu,
tetapi sebenarnya kehadiran Belanda di Sambas tidak diterima baik oleh Sultan
yang cenderung mempertahankan hubungan perdagangan Sambas dengan negeri China
yang terus merosot karena persoalan dalam negeri China.
Walaupun demikian Belanda tetap menahan diri tidak
menyerang Kerajaan Sambas, karena khawatir perang terbuka dengan Kerajaan
Sambas akan menguntungkan kedudukan Inggeris yang sudah lama ingin berkuasa di
Kalimantan. Terlebih setelah Syarikat Dagang Hindia Timur Inggeris
mendapat hak monopoli perdagangan lada hitam dari Sultan Banjarmasin serta
membangun sebuah pabrik pengolahan gambir di Sukadana. Oleh sebab itu Belanda
tidak ingin berperang langsung dengan raja-raja di pesisir Barat Kalimantan,
tetapi cenderung melakukan taktik pecah belah (devide et empera) dengan cara
memihak salah satu pihak apabila terjadi pertikaian di antara kerajaan yang
satu dengan kerajaan yang lainnya.
Maka, ketika dalam tahun 1772, Raja Landak
menyampaikan keberatan kepada sekutunya Sultan Banten (Bentam) atas pendirian
Kerajaan Pontianak oleh Syarif Abdurrahman (putera Habib Husen, Mufti di
Kerajaan Mempawah), Belanda telah berpihak kepada Kerajaan Pontianak dan
Mempawah. Dalam surat kepada Sultan Banten, Raja Landak menyatakan keberatan
atas pendirian Kerajaan Pontianak oleh Syarif Abdurrahman, karena
perkampungan Pontianak di muara (kuala) Sungai Landak yang dijadikan Syarif
Abdurrahman sebagai pusat Kerajaan adalah kawasan perkampungan penduduk yang
berada di bawah Kerajaan Landak.
Oleh sebab itu, Raja Landak meminta bantuan Sultan
Banten untuk tidak mengakui Syarif Abdurraham yang telah mengangkat dirinya
sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Sultam syarif Abdurrahman Al-qadri,
serta membantu Kerajaan Landak mengusir Syarif Abdurrahman dari perkampungan
Pontianak. Tidak pelak lagi, pendirian Kerajaan Pontianak itu telah menyulut
perselisihan antara Kerajaan Landak dan Banten di satu pihak melawan
Kerajaan Pontianak dan Mempawah di pihak yang lain. Kolonial
Belanda telah mengambil kesempatan dalam sengketa ini untuk memperkuat
kedudukannya di pantai barat Kalimantan. Belanda memihak Kerajaan
Pontianak dan Mempawah dalam sengketa dengan Kerajaan Landak, serta
memaksa Sultan Banten untuk menerima berdirinya Kerajaan Pontianak dan mengakui
Syarif Abdurrahman sebagai rajanya. Atas dasar pengakuan Sultan Banten,
pemerintah Belanda kemudian mensyahkan Syarif Abdurrahman sebagai Sultan
Pontianak dan sekaligus menjadikan kerajaan baru itu sebagai sekutu dalam
menjalankan perdagangan dan pemerintahan di wilayah Bagian Barat
Kalimantan yang sekarang menjadi wilayah Provinsi Kalimantan Barat.
Apabila hari jadi Kota Pontianak dikaitkan dengan berdirinya Kerajaan Pontianak
oleh Sultan Syarif Abdurrahaman Alqadri, maka semestinya hari jadi kota
Pontianak jatuh pada tahun 1772 Masihi.
Kerajaan Inggeris sudah sejak awal abad ke-17 terus
berusaha untuk bisa menguasai wilayah pesisir Barat Kalimantan, tetapi selalu
gagal. Selain kerana faktor keganasan lanun yang merompak kapal-kapal dagang
Inggeris, juga karena persaingan dengan Belanda menyebabkan beberapa kerajaan
setempat yang mempunyai hubungan dekat dengan Belanda menolak kehadiran
Inggeris di kerajaan mereka.
Persaingan antara Belanda dengan Inggris ini pada
awalnya berkaitan dengan perdagangan lada hitam, gambir, emas dan berlian yang
dihasilkan penduduk di pulau Kalimantan, serta rempah-rempah dari Maluku yang
dibawa kapal-kapal yang singgah di Kalimantan dalam perjalanan ke India. Salah
satu kerajaan yang menolak kehadiran Inggeris di pesisir pantai Barat Kalimantan
adalah Kerajaan Sambas, sekutu Brunei, yang sejak lama telah membina hubungan
perdagangan dengan saudagar-saudagar dari negeri China.
Dalam tahun 1811, Pengeran Anom, seorang putera
Sultan Sambas, telah memerintahkan penyitaan kapal layar Malacca milik
Syarikat Hindia Timur Inggeris yang muatannya bernilai 14.000 Pound Sterling.
Penyitaan kapal layar Malacca ini telah menyulut kemarahan Raffles yang menuduh
putera Sultan Sambas, Pengeran Anom sebagai komandan lanun yang merompak
kapal-kapal dagang Eropah di perairan laut pantai Barat Kalimantan. Raffles
menuntut agar kapal layar Malacca dikembalikan kepada Inggeris, tetapi ditolak
oleh Sultan Sambas. Dalam laporan kepada Lord Minto, Raffles menyebut Sultan
Sambas telah nyanyuk (uzur) dan puteranya Pangeran Anom adalah komandan lanun
yang sepenuhnya bertanggung jawab atas perampasan kapal Malacca dan kapal-kapal
dagang Eropah lainnya.
Akibat penolakan itu, sebuah kapal angkatan laut
Inggeris dipimpin Kapten J. Bowen dalam bulan Oktober 1812 menyerang Sambas.
Raffles memerintahkan Kapten Bowen untuk membumi hangus pelabuhan dan
kota Sambas untuk memberikan pelajaran kepada Sultan dan puteranya
Pangeran Anom, serta sebagai contoh kepada negeri-negeri lain di Kalimantan
yang melindungi aktivitas para lanun. Namun, penyerangan itu gagal membumi
hangus pelabuhan dan kota Sambas. Ketika kapal angkatan laut Inggeris
memasuki muara Sungai Sambas, ratusan pasukan Kerajaan Sambas telah
menyerang pasukan Inggeris dari pantai, sehingga memaksa Kapten J. Bowen mundur
dan kembali berbalik arah ke Pulau Jawa.
Kegagalan penyerangan terhadap Sambas itu sangat
memalukan Inggeris, sehingga Raffles mengarahkan semua kapal dagang Eropah yang
akan ke Kalimantan Bagian Barat untuk berlayar melalui laut Jawa ke pelabuhan
Pontianak. Raffles memang berkeinginan kuat untuk menghancurkan Kerajaan Sambas
dan menangkap Pangeran Anom yang dituduh sebagai ”komandan” lanun. Untuk itu,
Raffles ingin memperkuat kedudukan Kerajaan Pontianak agar dapat menguasai
seluruh pantai Barat Kalimantan. Dalam sebuah surat kepada Sultan Pontianak,
Raffles menulis ”Saya meminta tuan yang terhormat dapat memberikan kepada saya
tanah untuk disewa dan sebagian cukai pelabuhan yang dipungut dari kapal-kapal
Eropah. Dan untuk perlindungan saya akan menempatkan duapuluh empat tentara
dengan bendera Inggeris di Pontianak,” tulis Raffles.
Pada bulan Maret 1813, Raffles telah mengutus John
Hunt sebagai wakil politik dan perdagangan di Pontianak. Melalui John Hunt,
Raffles menyampai permintaan bantuan kepada Sultan Pontianak untuk memungut
upeti dari orang-orang Cina yang diberi perlindungan oleh Inggeris, serta
meminta bantuan melawan Sambas. Dengan arahan Raffles banyak barang-barang
keperluan di Kerajaan Sambas terpaksa harus diimpor melalui pelabuhan
Pontianak, sehingga peranan pelabuhan Sambas dalam perdagangan menjadi semakin
merosot sebagai akibat embargo yang dilakukan Inggeris atas perintah Raffles.
Setelah mendapat informasi dari Sultan Pontanak
tentang kekuatan Kerajaan Sambas, kemudian Raffles memerintahkan penyerangan
kedua ke Kerajaan Sambas dengan jumlah tentara yang lebih banyak daripada
penyerangan pertama yang gagal. Satu pasukan darat yang dipimpin Kolonel James
Watson dari Resimen 14 telah mendarat di kuala Sungai Sambas pada 23 Juni 1813
bersamaan dengan kapal angkatan laut Inggeris dari Malaka. Sepucuk surat pun
dikirim oleh Kolonel Watson kepada Sultan Sambas yang menuntut penyerahan
Pangeran Anom, tetapi tidak mendapat tanggapan dari Sultan.
Sekumpulan pasukan Inggeris yang telah dipisahkan
dari awal keberangkatan mendarat di pantai yang tidak dijaga pasukan Kerajaan
Sambas. Mereka menyerang dari belakang pasukan yang dipimpin Pangeran Anom.
Menurut surat Kolonel Watson tertanggal 3 Juli 1813 kepada Raffles, pasukan
Inggeris telah berhasil menduduki pelabuhan Sambas dan kawasan perkebunan
sekitarnya, serta membunuh seratus lima puluh orang musuh. Namun, Pangeran
Anom berhasil melarikan diri ke daerah pedalaman berlindung di
perkampungan penduduk pribumi Dayak.
Selanjutnya, Raffles mengumumkan penutupan (embargo)
terhadap semua pelabuhan di pulau Kalimantan bagi semua kapal dagang dari
Eropah, kecuali pelabuhan Banjarmasin, Pontianak dan Brunei. Kemudian
dalam bulan Agustus 1813 Raffles mengutus C.Garnham perwakilan dagang Inggeris
di Makasar untuk melawat ke pantai Barat Kalimantan guna memastikan
penutupan terhadap pelabuhan-pelabuhan yang diperintah Raffles itu benar-benar
telah berjalan, serta tidak ada lagi basis lanun yang eksis beroperasi di
laut pantai Barat, laut pantai Utara dan pantai Timur Kalimantan.
Setiba di Sambas pada 10 September 1813, Kapten
Garnham mengumumkan pengampunan umum (termasuk Pengeran Anom) dan mengirim
surat kepada Sultan Sambas menawarkan tahtanya kembali dengan syarat antara
laian seorang Residen Inggeris harus dilantik sebagai penasehat Sultan dan
Kerajaan Sambas tidak boleh memiliki tentara, kecuali pasukan pengawal istana.
Selanjutnya Garnham melanjutkan pelayaran ke ke pantai Utara untuk menasehati
Raja Sarawak. Dengan sepucuk surat Garnham meminta Raja Sarawak tidak
melindungi lanun-lanun yang beroperasi di wilayahnya. Utusan Raffles itu juga
menulis surat kepada Sultan Kutei dan Pasir untuk menghentikan aktivitas lanun
di pantai laut bagian Timur Kalimantan.
Seterusnya
utusan khusus Raffles itu bertolak ke Brunei untuk berjumpa Sultan membicarakan
embargo terhadap pelabuhan-pelabuhan di pulau Kalimantan, kecuali pelabuhan
Banjarmasin, Pontianak dan Brunei. Dalam surat kepada Raffles, Garnham
menyatakan Sultan Brunei dapat menerima alasan penutupan pelabuhan-pelabuhan di
Kalimantan bagi kapal-kapal dagang Eropah. Sultan Brunei juga berjanji
akan membicarakan hal itu dengan Raja Sambas dan Raja Sarawak. Ketika
Garnham kembali lagi ke Sambas, ia telah menerima jawaban kesediaan Sultan
Sambas menyetujui semua syarat yang telah disampaikan kepada Sultan melalui
surat.
Maka, pada tanggal 24 Oktober 1813 di atas kapal
H.M.S Malacca yang berlabuh di perairan pelabuhan Sambas, tahta
Sultan Sambas telah dikembalikan oleh Garnham atas nama Kerajaan Inggeris.
Sejak itu, Sambas menjadi sebuah kerajaan tidak memiliki pasukan tempur, dan
hanya memiliki pasukan pengawal istana saja. Setahun setelah tahtanya
dikembalikan oleh Inggeris, Sultan Sambas pun wafat dalam bulan Agustus 1814
seminggu setelah Pangeran Anom kembali ke istana Sambas.
Kesimpulan penulis, aksi lanun di perairaan laut
pantai Barat dan Utara Kalimantan sebenarnya berkaitan dengan upaya
persaingan dagang antara saudagar-saudagar negeri China dan para saudagar
dari Eropah. Dalam konteks ini Kerajaan Sambas, Sarawak dan Brunei, cenderung
bekerjasama dengan para saudagar dari negeri China, sehingga mereka memberikan
”perlindungan” kepada para lanun yang merompak kapal-kapal dagang Eropah.
Daftar Rujukan
http://arifnasah.blogspot.com/2012/10/sejarah-islam-di-pontianak.html





KISAH NYATA.
BalasHapusAss.Saya IBU Yunu Sara.Dari Kota Surabaya Ingin Berbagi Cerita
dulunya saya pengusaha sukses harta banyak dan kedudukan tinggi tapi semenjak
saya ditipu oleh teman hampir semua aset saya habis,
saya sempat putus asa hampir bunuh diri,tapi saya buka
internet dan menemukan nomor Nyi Pele,saya beranikan diri untuk menghubungi beliau,saya dikasi solusi,
awalnya saya ragu dan tidak percaya,tapi saya coba ikut ritual dari Hyi Pele alhamdulillah sekarang saya dapat modal dan mulai merintis kembali usaha saya,
sekarang saya bisa bayar hutang2 saya di bank Mandiri dan BNI,terimah kasih Nyi,mau seperti saya silahkan hub Nyi
Dimas di nmr 0823-9350-0556 Nyi Pele,ini nyata demi Allah kalau saya bohong,indahnya berbagi,assalamu alaikum.PESUGIHAN NYI PELE